Malam itu bulan separuh gelap, bintang bertaburan.

Di pendapa rumahnya, Ki Wanakarta memaparkan ki-tab Dasanama kepada Mas Cebolang dan empat pembantunya (Nur-witri, Sa-loka, Palakarti, dan Kar-ti-pala). Di-mulai dengan rambut, rai (wa-jah), ulat (sinar wajah), susu (buah da-da), wa-lakang (selangkangan), silit (pantat), peli (pelir), konthol (kantong buah pelir), sampai pawestren (kemaluan wanita), itil (kelentit), dan seterusnya, nama-nama diuraikan dengan gamblang.

Nurwitri berkata pelan, ”Nama lain penthil (puting susu), pringsilan (buah pelir), dan jembut (rambut ke-maluan) belum diuraikan.” Jawab Ki Wanakarta, ”Buyung, saya belum men-jum-pai.”

Orang tua itu melanjutkan uraian-nya. Ketika ia sampai pada nama-nama hewan, Nurwitri bertanya lagi—demikian dalam Centhini III, Balai Pustaka, 1994, hlm. 296—suaranya li-rih, ”Anggota tubuh yang belum disebutkan yaitu telanakan (peranakan), jembut, dan penthil.”

Ki Wisma tersenyum dan berkata, ”Saya belum menemukan. Lain lagi yang akan saya ce-ritakan, kudapan dan minuman itu sa-ngat kasihan, mohon untuk diusik, ...”

Sastra Jawa awal abad ke-19 meng-olah aspek seksualitas sebagai kewa-jar-an, sebagai ilmu, pengajaran, tanpa ke-san atau asosiasi perversi. Bahkan sebagian kosakatanya tentang organ kelamin masuk kamus bahasa Indonesia.

Dalam Serat Wirid Hidayat Jati, Ra-den Ngabehi Ranggawarsita meng-him-pun wejangan esoteris delapan wa-li tanah Jawa yang, antara lain, me-lakukan transendensi makna ”konthol Adam” selaku wujud zahir Baitul Mu-qaddas (rumah yang disucikan) untuk mengupas hakikat sifat Tuhan.

Kini apa yang terjadi? Nama-nama itu melindap. Citranya saru, tak senonoh, ”diharamkan”—ada di kamus, tetapi pantang dilafazkan di muka umum, kecuali sebagai makian berludah di dunia haram jadah. Kosakata itu masuk kategori ”vulgar”, ”tidak pantas dalam wacana ilmiah”, ”tak patut di ruang elitis”. Media massa umumnya memakai kata pinjaman dan serapan dari bahasa Inggris: penis, testikel, testis, skrotum, vagina, klitoris—atas nama kesopanan (?) se-men-tara atribut makna metafisik-spi-ri-tualnya terkelupas jadi semata-mata fisik-anatomis.

Lepas dari konteks apa pun, kosa-kata tradisional sudah terdesak ke su-dut konotasi ”kampungan”. Pada kelas menengah, sebutan kutang mulai tergusur oleh bra seolah ada yang salah de-ngan istilah itu. Maaf—agaknya kini ada parafrase: ”kutang itu penutup dada nenek di kampung; penutup dada wanita karier metropolitan namanya bra”.

Kita terbiasa menghindari, tanpa urgensi, nama-nama ”lokal” tentang alat kelamin, termasuk kutang, kaus ku-tang, kancut, dan sejenisnya, yang pa-da dasarnya kaprah dalam seja-rah bahasa ini. Kita seperti sengaja mem-biarkannya arkais, dan mungkin ke-lak menghapusnya. Lingkap. Yang ada cuma anu.

Bahasa menyembunyikan pikiran, kata Ludwig Wittgenstein dalam Tractatus Logico-Philosophicus (proposi-si 4.002), tak ubahnya pakaian yang membungkus rapi dan tidak memungkinkan untuk menjelajahi rupa tubuh di dalamnya. Menyangkut gengsi, kita bukanlah bangsa yang ugahari. Kita ingin tampil necis seraya menafikan kata-kata yang sekian lama dirawat oleh kecendekiaan leluhur. Rekayasa mentallah yang membuat kata-kata itu cemar, lalu ”sang dalang” bersembu-nyi di balik bunga-bunga ung-kapan.

Seraya menista tradisionalis jumud, kita tidak jitu menangkap arti produktivitas bahasa. Saat dunia menggandrungi keragaman etnik, kita justru memupus keunikan warna lokal dan melebur dalam arus besar bahasa Ing-gris tanpa menggali dasanama, senarai sinonim. Kita tak memiliki girah dan ”intuisi kolektif” tentang strategi bahasa sebagaimana pada masyarakat Prancis. Kita pun tak punya perspektif tentang bagaimana bahasa meneguhkan jati diri. Dibutuhkan keberanian untuk membongkar bentuk-bentuk peyoratif yang terpola di alam bawah sadar, yang merongrong khazanah bahasa serta kebanggaan memakainya. Berani menatap karakter: pamornya, laurnya, liarnya.

Apabila sebuah Undang-Undang Ke-bahasaan ke-lak gagal melawan peyo-rasi, membebaskan kita dari belenggu psiko-kultural yang absurd, jatuhlah fungsinya sekadar melegitimasi te-rungku bagi Marquis de Sade: nihilitas. Tak meng-ubah apa pun.

Pages: 1 2