Di ujung diskusi bahasa, bergaya tak acuh namun jelas ada itikad me-nantang resepsi hadirin, Remy Sylado menyebut alat kelamin perempuan de-ngan kosakata ”pribumi” tanpa te-deng aling-aling. Hadirin terpingkal-pingkal, sementara pembicara perempuan di sisinya repot menata air muka, dan moderator meringis dengan wajah ba-gai cucian diperas.
Mungkinkah ini pembawaan infe-rior kelas menengah kita terhadap ba-hasa sendiri? Atau kegamangan—se-hingga suara lirih Nurwitri kini terde-ngar riskan, dangkal, dan ”nakal”?
Setelah melucuti harkatnya yang wa-jar dan netral, kita campakkan nama-nama itu ke dalam kamar berahi, atau lorong-lorong berbau bacin yang disuruki angin lengas.