Search blog.co.uk

Suara Lirih Nurwitri

by aquilotti @ Thursday, 12. Jul, 2007 - 11:09:48 pm

Malam itu bulan separuh gelap, bintang bertaburan.

Di pendapa rumahnya, Ki Wanakarta memaparkan ki-tab Dasanama kepada Mas Cebolang dan empat pembantunya (Nur-witri, Sa-loka, Palakarti, dan Kar-ti-pala). Di-mulai dengan rambut, rai (wa-jah), ulat (sinar wajah), susu (buah da-da), wa-lakang (selangkangan), silit (pantat), peli (pelir), konthol (kantong buah pelir), sampai pawestren (kemaluan wanita), itil (kelentit), dan seterusnya, nama-nama diuraikan dengan gamblang.

Nurwitri berkata pelan, ”Nama lain penthil (puting susu), pringsilan (buah pelir), dan jembut (rambut ke-maluan) belum diuraikan.” Jawab Ki Wanakarta, ”Buyung, saya belum men-jum-pai.”

Orang tua itu melanjutkan uraian-nya. Ketika ia sampai pada nama-nama hewan, Nurwitri bertanya lagi—demikian dalam Centhini III, Balai Pustaka, 1994, hlm. 296—suaranya li-rih, ”Anggota tubuh yang belum disebutkan yaitu telanakan (peranakan), jembut, dan penthil.”

Ki Wisma tersenyum dan berkata, ”Saya belum menemukan. Lain lagi yang akan saya ce-ritakan, kudapan dan minuman itu sa-ngat kasihan, mohon untuk diusik, ...”

Sastra Jawa awal abad ke-19 meng-olah aspek seksualitas sebagai kewa-jar-an, sebagai ilmu, pengajaran, tanpa ke-san atau asosiasi perversi. Bahkan sebagian kosakatanya tentang organ kelamin masuk kamus bahasa Indonesia.

Dalam Serat Wirid Hidayat Jati, Ra-den Ngabehi Ranggawarsita meng-him-pun wejangan esoteris delapan wa-li tanah Jawa yang, antara lain, me-lakukan transendensi makna ”konthol Adam” selaku wujud zahir Baitul Mu-qaddas (rumah yang disucikan) untuk mengupas hakikat sifat Tuhan.

Kini apa yang terjadi? Nama-nama itu melindap. Citranya saru, tak senonoh, ”diharamkan”—ada di kamus, tetapi pantang dilafazkan di muka umum, kecuali sebagai makian berludah di dunia haram jadah. Kosakata itu masuk kategori ”vulgar”, ”tidak pantas dalam wacana ilmiah”, ”tak patut di ruang elitis”. Media massa umumnya memakai kata pinjaman dan serapan dari bahasa Inggris: penis, testikel, testis, skrotum, vagina, klitoris—atas nama kesopanan (?) se-men-tara atribut makna metafisik-spi-ri-tualnya terkelupas jadi semata-mata fisik-anatomis.

Lepas dari konteks apa pun, kosa-kata tradisional sudah terdesak ke su-dut konotasi ”kampungan”. Pada kelas menengah, sebutan kutang mulai tergusur oleh bra seolah ada yang salah de-ngan istilah itu. Maaf—agaknya kini ada parafrase: ”kutang itu penutup dada nenek di kampung; penutup dada wanita karier metropolitan namanya bra”.

Kita terbiasa menghindari, tanpa urgensi, nama-nama ”lokal” tentang alat kelamin, termasuk kutang, kaus ku-tang, kancut, dan sejenisnya, yang pa-da dasarnya kaprah dalam seja-rah bahasa ini. Kita seperti sengaja mem-biarkannya arkais, dan mungkin ke-lak menghapusnya. Lingkap. Yang ada cuma anu.

Bahasa menyembunyikan pikiran, kata Ludwig Wittgenstein dalam Tractatus Logico-Philosophicus (proposi-si 4.002), tak ubahnya pakaian yang membungkus rapi dan tidak memungkinkan untuk menjelajahi rupa tubuh di dalamnya. Menyangkut gengsi, kita bukanlah bangsa yang ugahari. Kita ingin tampil necis seraya menafikan kata-kata yang sekian lama dirawat oleh kecendekiaan leluhur. Rekayasa mentallah yang membuat kata-kata itu cemar, lalu ”sang dalang” bersembu-nyi di balik bunga-bunga ung-kapan.

Seraya menista tradisionalis jumud, kita tidak jitu menangkap arti produktivitas bahasa. Saat dunia menggandrungi keragaman etnik, kita justru memupus keunikan warna lokal dan melebur dalam arus besar bahasa Ing-gris tanpa menggali dasanama, senarai sinonim. Kita tak memiliki girah dan ”intuisi kolektif” tentang strategi bahasa sebagaimana pada masyarakat Prancis. Kita pun tak punya perspektif tentang bagaimana bahasa meneguhkan jati diri. Dibutuhkan keberanian untuk membongkar bentuk-bentuk peyoratif yang terpola di alam bawah sadar, yang merongrong khazanah bahasa serta kebanggaan memakainya. Berani menatap karakter: pamornya, laurnya, liarnya.

Apabila sebuah Undang-Undang Ke-bahasaan ke-lak gagal melawan peyo-rasi, membebaskan kita dari belenggu psiko-kultural yang absurd, jatuhlah fungsinya sekadar melegitimasi te-rungku bagi Marquis de Sade: nihilitas. Tak meng-ubah apa pun.

Pages: 1 2


 
 

Oleh-Oleh Untuk Pengunjung

by aquilotti @ Wednesday, 11. Jul, 2007 - 08:18:13 pm

Musik Premiership

PADA SUATU AKHIR PEKAN di bulan November 2002, terjadi lima peristiwa berbeda di lima tempat berbeda, pada ruang berbeda dan pada waktu yang berbeda pula, tapi semuanya itu tetap mengarah ke satu tujuan yang sama. Inilah masa-masa transisi bergesernya mazhab sepakbola dunia.

Los Angeles, AS, menjelang jam 03.30 dinihari.

Pada malam yang bersalju dengan dingin mencekam, dua pemuda berjaket terlihat tergopoh-gopoh memasuki sebuah bar. Tempat yang dituju tertulis dengan jelas: Venue Cock & Bull Bar, Santa Monica. Begitu duduk, Jimmy dan Ryan, langsung menyalakan rokok dan memesan minuman.

Bor, Serbia Timur, waktu menunjukkan 00.20 malam. Seorang kakek berjalan mantap menuju ruangan bernama Venue Refugee yang terletak di pojok di Hotel Serbia. Wajah pria tua itu, Stanimir Ibranimovic, 62 tahun, memancarkan semangat dan kegembiraan. Di lehernya terlilit syal warna merah bertuliskan Manchester United.

Nairobi, Kenya, pukul 01.27 pagi.

Dengan muka berbinar, pria pelanggan tetap Kengeles Bar yang terletak di pusat ibukota segera menempati kursi terdepan. Lelaki bernama Steven Kinaro, 23, itu dengan bangga memakai kaos replika Liverpool versi mutakhir. Dia juga mengenakan pernak-pernik klub yang menunjukkan diri sebagai Liverpudlian sejati.

Hong Kong, sesaat menjelang jam 19.30 malam.

Seorang wanita buru-buru turun dari taksi lalu berlari-lari kecil menuju ke sebuah bar di klub malam South China Athletic Club yang terletak di Causeway Bay. Di lobi, Tiffany Tong, 30, bertemu teman-temannya yang cukup resah menungguinya sejak tadi. Kemudian mereka bergegas masuk ke dalam ruangan.

Sydney, Australia, malam bergerimis sekitar pukul 22.25.

Pemuda berpenampilan old fashion berjalan lamban sambil melirikan matanya ke sana kemari. Dia terkejut berat kala orang-orang di Cheers Sport Bar serempak berteriak-teriak, ” Come on Reds! ” Patrick Tam, 27 tahun, seorang peneliti, merasa dirinya jadi yang paling aneh di sana.

Cerita di atas bukan lakon film atau telenovela kecuali realita. Musik The English Premiership bermuatan multidimensi sebab bisa menembus batas, ruang dan waktu. Setiap akhir pekan, adrenalin Jimmy dan Ryan, Stanimir, Steven dan Tiffany serta Patrick selalu menggelegak, sama-sama punya libido meski kadarnya berbeda oleh sebab satu hal: bersiap nonton bareng konser English Premier League.

***

”Kami pecandu EPL yang tak pernah melewatkan siaran langsungnya di TV, dan masih menonton tayangan lain di Fox Sports World TV. Menonton MLS buang waktu saja, terlalu pelan dibandingkan EPL. Kecepatan dan kegairahan di pertandingan EPL begitu total. Itulah yang membuat kami cinta berat,” jelas Ryan Farhoudini, 24, seorang bartender.

”Sepanjang hidup saya cinta sepakbola Inggris. Di EPL banyak tim yang setara kekuatannya dan permainannya amat keras, cepat, ada bola-bola panjang dan pendek, umpan silang dan aksi-aksi liar di mulut gawang. Pokoknya mendebarkan,” kata Stanimir yang semasa mudanya adalah wartawan.

Di mata Steven, sepakbola adalah Inggris. Sayangnya, di Afrika tontonannya sulit didapat. Ini soal kekuatan uang, dia menyadari itu.”Saya tergila-gila, tiap tahun saya membeli kostum klub kesukaan saya, dan satu yang pasti, saya tak mau nonton Serie A, tidak menarik,” cetusnya.

Bagi Tiffany, EPL adalah obat stres usai bekerja keras lima hari tiap pekan. Gayanya mencerminkan warga Hong Kong yang maniak dengan EPL dan bukan pada Serie A atau La Liga. ”Saya menonton di bar karena tak punya TV kabel. Impian saya liburan ke Inggris dan nonton langsung Liverpool di Anfield,” ungkap wanita yang bekerja sebagai analis keuangan ini.

Pertumbuhan pelanggan baru EPL tak tertahankan. Dan munculnya dari mana saja, misalnya gara-gara tak sengaja. Inilah tipikal Patrick Tam, seorang warga baru The Reds di Sydney. ”Dulu saya menyenangi rugby, dan ketika TV andalan saya itu dibeli Rupert Murdoch, acara rugby jadi menghilang. Lalu saya mencoba sepakbola sebagai gantinya,” aku Patrick.

Jelas sudah, EPL ditonton di mana saja, oleh siapa saja, apapun alasannya dan dengan sesering mungkin. Karakteristik EPL berbeda dengan liga-liga lain, katakanlah dibandingkan dua pesaing terdekat, Serie A dan La Liga. Misalnya jadwal EPL yang terlihat kacau bin seenaknya saja itu. Orang boleh sebal melihatnya, namun itulah selalu ada udang di balik batu. Ini adalah bagian dari trik bisnis!

FAPL merancang tontonan EPL agar bisa disaksikan secara moderat. Untuk pasar terbesar seperti Asia, Afrika, dan Australia, waktu kick-off kebanyakan pada prime-time. Kecuali di benua Amerika yang biasanya pada jam.03.30 pagi. Semuanya ini akhirnya membuat The Premier League is a truly global sporting and televisual phenomenon.

”Liputan EPL jauh lebih banyak dan panjang waktunya dibanding Serie A dan La Liga. Dan meski bukan yang terbaik dari segi teknis permainan, tapi dunia mengakui bahwa EPL adalah yang terhebat karena lebih menarik, lebih merangsang, lebih ingar-bingar, lebih bertenaga dan lebih atraktif,” tegas CEO Premier League, Richard Scudamore.

Banyak ragam untuk memvisualisasikan popularitas Premiership. Dalam tahun ke tahun, EPL makin mewabahi dunia. Big-match antara Arsenal vs Manchester United, 21 Januari 2007 di Emirates Stadium, disebut-sebut sebagai contoh terbaik kehebatan EPL, lebih dari rekor ditonton langsung 160 juta pasang mata di 202 negara ini.

Kemenangan tak melulu milik The Gunners, tapi juga The FA Premier League (FAPL), sepakbola Inggris. Duel itu berjalan dramatis sebab kemenangan 2-1, baru muncul saat injury-time, tepatnya di menit 94. Apabila Arsenal meraup fresh money dari 60.128 penonton, maka pikirkan hallo-efect yang diraih EPL. Gaungnya, yang melahirkan feed-back bisnis, dijamin menembus ke seluruh pori-pori bumi.

Di Inggris saja, laga itu ditonton langsung hampir enam juta jiwa. Sekitar 3,4 juta jiwa di antaranya dari pelanggan Sky TV, dan dua juta lebih disumbangkan 40 ribuan pub dan bar. Di luar itu, alamak, ada 201 negara lain yang mengangkut 613 juta rumah tangga yang berlangganan TV kabel pemegang hak eksklusif EPL macam Sky dan ESPN Star. Wajar jika efek lain yang bukan dari hitungan bisnis juga bermunculan.

***

Pada 1972 seorang pakar matematika dan meteorologi asal AS, Edward Lorenz, memaparkan teori menghebohkan bahwa kepakan seekor kupu-kupu di Brasil jadi pemicu tornado di Texas! Dan kini, di 2007, dunia bingung melihat dampak gol sundulan Thierry Henry ke gawang Edwin van der Sar di London, yang selang beberapa detik, bikin keonaran di Lagos, gemuruh bumi di Mumbai serta histeria massal di Zagreb dan belahan dunia lainnya?

”Saya tahu pasti ada gejolak di sini jika Arsenal bertemu Manchester United,” kata Joe Nwokoye, pemuda yang tinggal di Lagos. ”Tapi saya tak menyangka usai Henry membuat gol. Terdengar gemuruh suara di mana-mana dan ketika membuka jendela tampak berterbangan bulu-bulu burung di jalanan.”

Nwokoye menganggap duel itu sebagai pertempuran Afrika vs Eropa, si hitam lawan si putih yang mengingatkan orang pada era kolonialisme. Arsenal lebih disukai karena banyak dihuni pemain Afrika. Tapi di Mumbay lain lagi. Tiba-tiba banyak terjadi kesenyapan. Kalaupun ada orang-orang, kata Nilu Izadi, seorang saksi mata, kebanyakan berdiam diri.

Di Islandia, dua delegasi dari Icelandic Broadcasting Corp dan Icelandic Television Co, sampai berlomba-lomba memesan tiket pesawat ke London agar lebih duluan sampai di kantor FA yang terletak Trafalgar Square, untuk bertemu pejabat FA.

Di Argentina, menurut laporan harian The Independent, animo menonton Liga Inggris naik pesat sejak Carlos Tevez dan Javier Mascherano main di West Ham United. Ini selaras dengan pengakuan Diego Maradona bahwa dia kini penonton setia EPL dengan cara berlangganan TV kabel di rumahnya.

Lucunya, mungkin saking semangatnya, presenter di Argentina kerap kebablasan menganalisis para pemain EPL. Saat melihat George McCartney, bek kiri West Ham, serta merta mereka mengingatkan pemirsa soal nama ini pada dua anggota The Beatles, George (Harrison) dan (Paul) McCartney!

Memang rada aneh bila mendengar sekumpulan orang di kepulauan Seychelles, jadi bertengkar hebat gara-gara sebuah diskusi dengan pertanyaan awal ”Mengapa Alex Ferguson tak menurunkan dua striker?” Tapi itulah faktanya.

Para politikus yang menghuni gedung parlemen di Westminster Palace, melihat ini sebagai peluang emas. Mereka tak segan mengintervensi lewat dalih nasionalisme dan patriotisme. Salah satu gerakan dimotori kanselir James Gordon Brown, politisi dari Partai Buruh, yang pada 2006 nyaris menjadi PM Inggris.

Dengan menyeret Supersport, kanal TV bayaran yang berbasis di Afrika Selatan, ia mempresentasikan rencana besarnya menggratiskan live EPL di sejumlah negara miskin Afrika yang mayoritas penduduknya Islam, dengan tingkat populasi 390 juta jiwa. Brown berkilah ini makin menambah popularitas dan kekuatan EPL, yang secara substansial mengingatkan lagi kejayaan British Empire seperti di abad 15.

Di mata Gavin Hamilton, pemred majalah World Soccer, dominasi global EPL dipengaruhi oleh ikatan emosional bahwa Inggris adalah tempat kelahiran sepakbola modern terutama di mata penduduk kawasan terlemah seperti Asia serta status Inggris sebagai pemilik bahasa utama dunia, lingua franca nomor satu di media massa termasuk di internet.

Fenomena EPL sekarang ini mungkin mengingatkan orang pada kreasi mereka sebelumnya pada industri musik yang menguasai jagat penjualan album dan konser. Kalau dulu The Beatles kini Liverpool, anggaplah The Rolling Stones seperti Manchester United, peran Pink Floyd kini digantikan Arsenal, dan kiprah Led Zeppelin mungkin mirip-mirip Chelsea.

Biasanya jika si bapak sudah begini, lawan setimpal cuma datang dari si anak sulung, Amerika. Cuma kebetulankah bila kini banyak Yankees yang menyeburkan diri ke sepakbola? Lepas ending-nya bagaimana, tapi lima tahun terakhir, album dan konser EPL kini yang paling laku, paling berpengaruh di jagat sepakbola.

Coco

Footer

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.